Saat sekarang wawasan kebangsaan menjadi banyak dipersoalkan berbagai kalangan dengan persepsi yang berbeda beda. Apabila kita coba mendalaminya, menangkap berbagai ungkapan masyarakat, terutama dari kalangan cendekiawan dan pemuka masyarakat, memang mungkin ada hal yang menjadi keprihatinan. Ada kesan semangat kebangsaan di Indonesia telah menjadi dangkal atau tererosi terutama di kalangan ASN muda seringkali disebut bahwa sifat materialistik mengubah idealisme yang merupakan jiwa kebangsaan, kekuatiran ancaman disintegrasi bangsa, dengan melihat gejala yang terjadi di Provinsi Jawa Barat, pertikaian yang terjadi di beberapa daerah dengan berbagai sebab apakah masalah politik, sosial, ekonomi, etnik, agama dan sebagainya dimana terdapat kecenderungan paham kebangsaan merosot menjadi paham kesukuan atau keagamaan yang merajalela dengan mengerahkan massa untuk melakukan demontrasi yang bersifat berusaha pihak lawan maupun pemerintah.
Fenomena yang muncul adalah menyangkut isu-isu global yang memuat nilai-nilai universal dan mengungguli nilai-nilai nasional. Nilai-nilai universal tersebut bahkan sengaja dipaksakan kepada negara tertentu oleh negara-negara yang mengklaim dirinya sebagai negara yang paling menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut. Di tengah arus globalisasi dan proses demokrasi yang sedang berjalan saat ini di era reformasi, maka penguatan pemahaman nilai-nilai wawasan kebangsaan merupakan kebutuhan mutlak, utamanya bagi ASN sebagai komponen bangsa yang rentan terhadap sikap eksklusif yang bertentangan dengan perilaku dan budaya bangsa.
Strategi yang dapat digunakan untuk menguatkan pemahaman terhadap wawasan kebangsaan melalui ketahanan kesehatan fisik – mental dan sosial dalam mencapai revolusi mental ASN bisa dilakukan dgn cara antara lain :
Baca Juga:Pria ini Bejat, Anak Tetangganya yang Berusia 5 Tahun DicabuliHelikopter Milik TNI AD Meledak di Area Industri Kendal, 4 Tewas
- Melalui Diklat Prajab CPNS, Diklatpim IV,III tentang materi Wasbang dan Nasionalisme
- Seminar,Lokakarya tentang tumbuhnya radikalisme dan terorisme melalui kesehatan jiwa.
- Pembauran berbagai etnik dan agama di tempat tugas
- Menekankan jiwa nasionalis dalam keragaman
- Tidak mendiskriminasikan perbedaan antara mayoritas dan minoritas
- Menekankan mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia dalam rapat kedinasan
- Kesempatan untuk mendapatkan jabatan di pemerintahan secara adil dan pemeriksaan kesehatan mental mandiri rutin setiap menaiki jabatan pembina.
Sudah seharusnya dilakukan pelaksanaan penguatan promosi kesehatan jiwa melalui Perda no 5 Kesehatan Jiwa 2018 pada para kepala dinas dan kepala bidang SKPD dan OPD Pemerintah Provinsi Jawa Barat agar dapat dipetakan penekanan secara mental dan bullying yang marak dilakukan pada ASN eselon 3 dan eselon 4.
