Mendatang, Kusmana berharap agar pesantren yang ikut lebih dari lima. Namun pesantren itu harus punya kemampuan berkomunikasi, memahami sistem perdagangan.
“Dalam pameran seperti ini, kendalanya adalah bahasa. Perusahaan-perusahaan yang bertransaksi dengan pesantren kita berasa dari negeri-negeri yang berbahasa Prancis, Afrika, Arab, Rusia dan lain-lain,” ujarnya.
Dinas KUK juga berfokus pada pelatihan untuk menghadapi ekpsor saja. Selain prosedur ekspor, juga ada pelatihan negosiasi.
“Selama ini, orang luar menganggap kita sebagai pasar, suatu saat kita harus jadi produsen,” katanya. (*)
World Halal Summit: Pesantren OPOP Curi Perhatian Delegasi Eropa, Asia, Afrika
