KOTA CIREBON – Makan korban lagi! Galian C yang berada di Kelurahan Argasunya kembali menelan korban jiwa baru-baru ini. Padahal Pemerintah Kota Cirebon telah melarang adanya aktivitas Galian C di wilayah Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Jawa Barat ini.
Namun demikan, peringatan demi peringatan yang diberikan oleh Pemkot Cirebon tak digubris oleh warga. Itu semua bukan tanpa alasan, karena mereka para warga yang mengais rezeki sebagai kuli di Argasunya tak bisa bisa bertahan hidup.
Tetap saja bagi mereka yang sudah menggantungkan hidup sebagai kuli di galian C, kembali bekerja untuk memenuhi kehidupan sehari-hari kelurganya. Bisa disebut “sulit untuk keluar dari zona nyaman”. Karena mereka tidak perlu repot-repot lagi mengeluarkan modal untuk bekerja atau berdagang. Cukup hanya menyiapkan tenaga, rinjing dan pacul, mereka sudah bisa memperoleh ratusan ribu dalam sehari.
Baca Juga:3 Minggu Pasca Audiensi, Dinas ESDM Belum Cek Sumur Bor Indofood Di EnderGantikan AKP Endang Sujana, AKP Yulyanto SH Jabat Kapolsek Pabuaran
Itu sebabnya mengapa disebut sulit keluar dari “zona nyaman”, karena pekerjaan di pertambangan pasir galian C ini menggiurkan bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Asal mau mengeluarkan tenaga, mereka sudah cukup bisa menghidupi keluarganya dalam sehari-hari.
“Sekarang berdasarkan pengakuan kuli-kuli di Patok Besi, mereka bisa memperolah sehari Rp250.000 sudah lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga mereka,” kata Dul Gani, warga Cadas Ngampar ketika berbincang dengan Jabarpubliser, Jumat (26/7).
Ketika pemerintah melarang adanya aktivitas galian C, tanpa memikirkan solusi atas dampak yang terjadi itu. Mengapa, lanjut pria yang memiliki dua kendaraan angkut pasir ini menerangkan bahwa ketika mereka (pemerintah-red) melarang maka harus memikirkan “kampung tengah” para warga yang mengais rezeki menjadi kuli tersebut.
“Bila melarang boleh saja. Di stop pun tidak apa-apa. Tetapi ya itu tadi. Mereka (Pemerintah-red) harus memikirkan solusi atas masalah tersebut,” kata dia.
Meski pun diakui dia, Pemerintah Kota Cirebon ketika itu telah memikirkan solusi untuk alih pekerjaan para warga yang menjadi kuli. Namun, bantuan yang diberikan pemerintah tidak tepat sasaran.
“Karena yang diberi bukan pelaku (kuli-red), tapi malah orang yang tidak bekerja sebagai kuli diberikan sapi dan kambing,” kata dia.
