Kepala OJK Blak-blakan Soal Merger PD. BPR Kabupaten Cirebon

Kepala OJK Blak-blakan Soal Merger PD. BPR Kabupaten Cirebon
0 Komentar

Lutfi juga menyampaikan statmentnya terkait tidak adanya mutasi di jajaran direksi PD. BPR yang ada di Kab Cirebon selama puluhan tahun. Kata dia, khusus PD. BPR, ada faktor figur yang menentukan seseorang akan turut berinvestasi atau tidak. Kondisi unik yang sangat berbeda dengan perbankan lain pada umumnya. “Pertanyaannya kenapa gak pernah dirotasi? Kami pernah beberapa kali diskusi dengan direksi dan dewan pengawas, bahwa BPR ini memiliki operasional yang unik dengan mengutamakan figur seorang direksi. Jadi asal kenal si ibu itu, atau si bapak itu, saya mau (invest). Jadi dengan adanya rotasi dikhawatirkan akan bisa terjadi kehilangan pasar, akan terjadi penarikan deposito,” ujarnya.

Ia menegaskan, adanya rolling di jajaran Direksi, sejatinya menjadi kewenangan dewan pengawas di intern BPR sendiri. Namun dengan dalih figur tersebut, kontrol yang dilakukan oleh dewan pengawas ini tidak berjalan. “Sehingga, yang kita harapkan dari pengawasan internal dari dewan pengawas bisa melakukan kontrol (rolling-red), adanya ‘figur itu’ barang kali yang jadi pertimbangan dewan pengawas kenapa belum melakukan rolling. Makanya untuk mengatasi kondisi itu, sejak saya masuk di OJK Cirebon tahun 2015, saya terus dorong agar BPR ini efektif, efisien, dengan cara merger. Untuk menjawab pertanyaan itu (mutasi/rolling direksi) cara terbaiknya dengan dengan merger. Jadi tidak lagi banyak dirut, dirut dan dirut. Nanti semua jadi kepala cabang, hanya ada satu komandannya baik di Asjap maupun Babakan,” ulasnya.

Kaitan penggunaan nama PD. BPR, OJK menegaskan bahwa PD. BPR Babakan dan PD. BPR Asjap dianggap lebih mumpuni dibandingkan BPR-BPR lainnya. “Bukan tidak ada alasan atau kajian kenapa yang dipilih ini Babakan dan Asjap. Dua BPR yang ditunjuk sebagai kantor pusat ini merupakan BPR terbaik yang secara kesehatan perbankannya lebih mumpuni di banding BPR lainnya. Untuk merger ini dibutuhkan satu leader atau budaya kerja agar bisa mempengaruhi BPR yang dibawahnya. Misalnya di 12 PD. BPR selain Babakan, itu ada 2 atau 3 BPR yang kondisinya tidak bagus, ini harus disupport. Sekarang kalau misalnya kita pakai nama BPR Cirebon Barat/Timur, apa kata dunia BPR nya saja kondisnya begitu,” tandas Lutfi.

0 Komentar