“Makanya perlu peran serta para tokoh atau ulama yang dirasa efektif untuk mencegah terjadi pernikahan di bawah umur. Para tokoh ini diharapkan bisa memberikan pemahaman,” ujar Teguh.
Teguh juga mengungkapkan permasalahan fertilitas di Jawa Barat terutama di Jabar Selatan disebabkan pernikahan di bawah umur. Selain itu, faktor budaya juga menjadi penyebab masalah fertilitas ini.
“Permasalahan fertlitas di Jabar Selatan yang disebabkan oleh usia kawin yang masih muda. Kalau di Jawa Barat (secara keseluruhan) sudah mendekati angka 20 (tahun). Sudah bagus sebenarnya tapi di beberapa kabupaten masih di bawah angka 20, seperti Cianjur itu rata-rata yang 18. Tapi rata-rata masih ada juga yang 16,” tukas Teguh.
Baca Juga:Ada Oknum Nakal, Pasokan Air Untuk Warga Kok DisunatAnger: Jangan Banyak Alasan, Satpol PP ‘Wajib’ Tindak Tegas Galian C Ilegal
“Jadi lebih ke budaya, orang yang tidak kawin dikatakan perawan jomblo, misalnya seperti itu,” imbuhnya.
Jawa Barat menargetkan angka fertilitas kembali turun di angka 2,2 pada 2019 mendatang. Teguh optimis hal ini bisa tercapai, terlebih dengan komitmen yang telah diberikan Pemda Provinsi Jawa Barat. Apabila fertilitas ada di angka 2,2 artinya satu orang warga Jawa Barat rata-rata memiliki dua orang anak.
“Insyaallah kalau komitmennya seperti yang disampaikan Pak Sekda, Insyallah kita akan capai. Apalagi Pemda Provinsi Jawa Barat mengalokasikan anggaran kepada dua ribu tenaga penggerak desa, yang itu di Indonesia hanya di Jawa Barat. Provinsi lain ga ada,” pungkasnya. (rls/hms)
