Iriawan Lepas 1911 Tim Pemeriksa Hewan Kurban

Iriawan Lepas 1911 Tim Pemeriksa Hewan Kurban
0 Komentar

BANDUNG – Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat H. Mochamad Iriawan melepas 1911 tim pemeriksa hewan kurban yang terdiri dari petugas dari Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jabar, Kabupaten-Kota, Perhimpunan Dokter Indonesia Jabar 1, mahasiswa beserta dosen PSKH Unpad, MUI dan petugas dari DKM, di Gedung Pakuan Bandung, Selasa (14/08/2018).

Hal ini untuk memastikan hewan dan daging kurban yang didistribusikan ke masyarakat terbebas dari penyakit menular seperti antraks dan telah sesuai dengan syariat islam.

“Hewan yang diterima masyarakat harus sehat dan layak karena itu tim ini harus bekerja maksimal karena permintaan hewan setiap tahunnya juga meningkat,” ujar Iriawan.

Baca Juga:Wow, Air PDAM Tirta Raharja “Istimewa” untuk UltrajayaGMPC Ontrog Satpol PP, Tanyakan Galian C Ciawiasih

Dari 1911 tim pemeriksa hewan yang sudah disiapkan itu belum termasuk 1320 tenaga yang telah mengikuti pelatihan tata cara pemotongan hewan kurban dan sosialisasi pemilihan hewan baik dari anggota DKM maupun masyarakat secara mandiri.

Kebutuhan hewan kurban sapi dan kambing di Jabar tahun ini mengalami peningkatan sebanyak 15% dari 236 ribu ekor di tahun 2017. Jumlah ini belum termasuk hewan kurban yang disediakan Pemprov Jabar tahun 2018 yang mencapai 600 ribu ekor.

“Ada peningkatan kalau tahun 2017 ada 263 ribu totalnya sekarang ada peningkatan 10%-15% tapi penyediaan dari kita hampir 600 ribu jadi tidak ada masalah,” katanya.

Permintaan terhadap hewan kurban yang sangat tinggi menjelang Idul Adha ini menyebabkan arus lalu lintas atau perpindahan hewan dari satu daerah ke daerah lain pun relatif tinggi. Hal ini memungkinkan adanya ancaman penyakit antraks pada arus tersebut karena kumpulan ternak dalam satu lokasi. Mengantisipasi hal itu, Dinas Ketahanan dan Pangan dan Peternakan Jabar akan melalukan vaksinasi terhadap hewan kurban khsusunya sapi yang banyak didatangkan dari Provinsi Jateng dan Jatim.

“Sapi relatif banyak didatangkan dari Jateng dan Jatim artinya ada pergerakan hewan kurban antar daerah yang akan membawa resiko munculnya penyakit menular atau antraks namun Antisipasi antraks selalu kita lakukan salah satunya vaksinasi,” terang Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jabar, Dewi Sartika.

Tahun 2008 lalu di Jabar pernah ditemukan adanya penyakit antraks yaitu di Kota Bogor, Bekasi dan Depok serta Kabupaten Purwakarta, Karawang, Subang, Bogor dan Bekasi. Namun sejak saat itu hingga sekarang belum ditemukan lagi kemunculan penyakit tersebut.

0 Komentar