Tak hanya itu, Masdon juga mengeluhkan petugas yang menjelaskan justru bukan dari pihak Bank BTPN langsung. “Kita ini kan mau simpan uang, dan bikin rekening adalah hal yang sangat privasi. Bagaimana mungkin bisa yakin, kalau yang jelaskan saja bukan orang bank-nya langsung? Harusnya kan resmi dijelaskan, aturan mainnya seperti apa, ada CS Bank BTPN-nya juga disitu,” tandasnya.
Ia juga menyayangkan respon petugas yang cenderung asal dalam memberikan jawaban. “Saya tanya, kalau komunitas saya ingin buat kartu tersebut secara massal, apakah bisa? Misalnya dengan mengirim surat permohonan. Lalu petugas itu menjawab ‘jangan, melalui kita saja pak’. Loh ini kan rekening, harus jelas dong,” ungkapnya lagi.
Sebagai masyarakat awam, Ia menyarankan pihak BTPN bisa melakukan sosialisasi, sehingga program baru yang ditawarkan dapat direspon utuh oleh nasabah juga calon nasabah. “Kami hanya ingin penjelasan, tolong BTPN juga sosialisasi. Kalau caranya seperti ini, kesannya murahan banget, karena yang muncul adalah orang yang tidak berkompeten. Sekarang gini, kalau saya naruh uang hasil jual tanah di rekening Jenius lalu uang saya hilang, bagaimana? Siapa yang bertanggungjawab? Atau kalau android saya hilang, download dan mengoperasikan aplikasinya gimana? Terus fungsi logo VISA di bagian belakang kartu itu untuk apa?,” pungkasnya, seraya menyiratkan tanda bahwa banyak pertanyaan soal “Jenius” yang belum terjawab. (jay)
