“Kemarin ada tamu rombongan inspektorat, mereka takjub juga karena tidak ada bata, hanya batu dan pasir saja ya? Lalu mereka berkomentar: begini ya ternyata meski hanya batu dan pasir, kalau kerjanya bener, ngga dikorupsi, bertahan tuh sampe selama ini,” cerita Hary. Menurutnya, Museum Gedung Sate memberikan pengetahuan-pengetahuan baru yang membuka wawasan dan memberikan pelajaran sesuai dengan latar belakang bidang masing-masing.
Museum ini menceritakan dirinya, kata Hary, dan memberikan keleluasaan bagi semua untuk penggalian informasi melalui audio visual, gambar-gambar, maket. Memberikan pemahaman sesuai dengan kebutuhan pengunjung yang sangat heterogen, pribadi maupun rombungan, dari usia TK hingga pensiunan, juga menimbulkan proximity(kedekatan) dengan Gedung Sate yang ujungnya diharapkan timbul rasa memiliki dan ingin memelihara.
Hary juga menemukan beberapa pengunjung yang hingga berkali-kali datang berkunjung. Yang menyenangkan pengelola menurut Hary, setiap sudut museum menjadi pojok selfie. Itu artinya, interior yang disajikan oleh Museum Gedung Sate sepenuhnya dapat diterima dan disukai oleh pengunjung. “Yang tak terduga adalah diorama figure pimpinan dari Gubernur Ahmad Heryawan dan Wagub Deddy Mizwar justru menjadi spot favorit pengunjung untuk berfoto. Sering macet di sekitar itu. Mungkin mereka yang di luar daerah diam-diam punya keinginan tinggi juga untuk berfoto dengan pemimpin daerah mereka tapi kesempatannya langka, saya nggak tau juga haha,” katanya.
Baca Juga:Lima Bacabup Gerindra Lakukan PendalamanDesk Pilkada PKB: Rekom dan Koalisi Sebentar Lagi
“Atau bisa jadi berfoto dengan (figure) Gubernur dan Wagub adalah salah satu yang bisa mereka bawa pulang dan diperlihatkan, kalau virtual reality kan sifatnya lebih ke personal experience,” tambahnya.
Hary mengakui ada beberapa evaluasi yang harus segera mungkin ditanggulangi, seperti ketika antrian membludak diperlukan fasilitas tunggu yang memadai dari mulai kursi, peneduh hingga toilet. Ini menjadi penting karena pihak pengelola ingin kenyamanan dan informasi mengenai gedung sate dapat dengan baik diterima pengunjung. Ini juga yang menjadi dasar pengaturan satu rombongan masuk hanya 35-50 orang dengan durasi berkisar 10-15 menit.
Museum Gedung Sate yang mendapatkan apresiasi dari semua pengunjung ini tetap memiliki sisi yang meminta pemakluman dari masyarakat, terutama terkait peralatan teknologi. Jika digunakan tanpa jeda, peralatan berteknologi digital ini akan memperpendek umurnya. Untuk itu menurut Hary, masyarakat perlu tahu dan maklum jika ada pada sebulan sekali selain Senin dan hari libur nasional, Museum Gedung Sate tutup untuk kalibrasi dalam rangka maintenance/pemeliharaan).
