“Jadi saya kira dari sisi keberadaan BIJB banyak positifnya. Bukan Majalengka saja, tapi Jawa Barat secara keseluruhan dimana akhirnya punya bandara yang representatif,” ujar Acuviarta.
Dia bahkan meyakini, dilima tahun pertama beroperasi laju pertumbuhan ekonomi di sana akan naik satu sampai 1,5 persen. Ini melihat dari peluang yang ada melalui hadirnya penyerapan tenaga kerja, investor dan serapan konsumsi. Dengan begitu untuk jangka panjang ekonomi di Majalengka akan naik lebih dari dua persen.
“‎Masyarakat enggak usah khawatir. Orang datang ke BIJB itu potensi. Karena pengembangan kawasan sangat masif,” tandasnya.
Baca Juga:Sembilan Kabupaten Terima APE Karya P2TP2A JabarTong Eng : Dana Jamkesmas Bukan Untuk Bancakan Pejabat, Melainkan Untuk Kepentingan Masyarakat
Dia menambahkan, ketika satu kawasan menjadi persinggahan sektor jasa akan berkembang, salah satunya hotel. Tapi memang tidak akan optimal jika tidak ada daya tarik yang disuguhkan. Masyarakat di sini bisa menciptakan untuk menjadikan suatu yang menguntungkan.
PT BIJB yang bertanggung jawab dengan pembangunan bandara serta kawasan aerocity menurutnya tidak bisa bekerja sendiri. Instrumen lain harus bergerak salah satunya pemerintah untuk bisa memberdayakan masyarakat setempat. Sehingga potensi BIJB dengan segala keunggulannya akan maksimal.
“Tentu kita harus siapkan. Keraguan masyarakat yang katanya cuma akan sebagai penonton harus diyakinkan. Bukan hanya BIJB tapi pemerintah kabupaten/kota mempersiapkan. Kalau semua fokus pada BIJB ga akan selesai problemnya. Toh dampak ekonomi luas. Masalah masyarakat harus diatur. Percaya deh jadi yang selama ini pemerintah disebut ganti rugi bukan itu. Tapi menjadi ganti untung,” imbuh Acuviarta yang merupakan anggota ISEI ini. (hms/rls)
