CIREBON – Tuntutan massa pendukung calon Kuwu Desa Lebak Mekar, Kecamatan Greged, Kabupaten Cirebon, dari nomor urut 1 Nurudin bukan berarti tidak menerima kekalahan ataupun mencari-cari kesalahan pihak lawan. Tetapi karena merasa kecewa dibohongi oleh panitia sebelas yang diduga dibelakangnya dikendalikan oleh calon incumbent.
Hal itu disampiakan pengacara warga, Agus Prayoga dan tim kepada Jabarpublisher.com, Rabu (1/11), mengatakan, kejadian di Desa Lebak Mekar membawa keprihatinan banyak pihak dan menjadi contoh Pilkades yang buruk dimana saat kejujuran menjadi mahal. “Ditempat lain Pilwu berlangsung aman tetapi di Desa Lebakmekar terjadi permainan curang politik yang diduga lantaran ketakutan incumbent akan kekalahan,” ujarnya
Agus Prayoga melanjutkan, sementara ditempat lain banyak incumbent yang tumbang. “Ketidak puasan publik harus dikawal sampai tuntas, warga akan terima jika dilaksanakan secara fear. Tapi karena curang warga tidak terima, warga mendatangi kami meminta advokasi. Itu yang membuat kami prihatin dan akan membantu kemanapun sampai tuntas,” kata Agus.
Baca Juga:Ini Output Keren Desa Gembongan Mekar Dari DD Tahap IISahrul & Kedua Adiknya Cari Rongsokan Hingga Larut Malam Demi Kelangsungan Hidup
Masih dikatakan Agus, kejadian di Desa Lebak Mekar merupakan tindakan yang tidak mendidik dan merupakan tindakan kejahatan yang tidak bisa ditolerir yang biasanya dilakukan oleh incumbent. Dari data aduan yang diterima menurutnya adalah terkait persoalan penggelambungan suara, dia turun untuk membantu Warga Desa Lebak Mekar juga untuk meredam masyarakat karena pihaknya akan membawa kasus tersebut hingga terungkap tuntas. “Mekanisme pidananya dieliminir, kalau ada pidana proses hukum nunggu Panwas, hanya masalah waktu,“ imbuhnya.
Sementara itu perwakilan warga, Abdul Kholik mengatakan, bahwa kronologis terjadinya kecurangan bermula banyaknya warga yang merasa hilang haknya untuk memilih lantaran ketika datang ke TPS menyodorkan surat undangan ternyata dalam data DPT sudah terceklis sehingga harus pulang kerumah tanpa bisa memberikan hak suara. Kejadian tersebut ternyata bukan terjadi kepada satu atau dua orang saja. Akhirnya warga mengungkap semua lantaran hak pilihnya telah hilang. “Ada 93 undangan yang merasa hilang haknya, saat kita tanyakan kepada panitia, kenapa mereka tidak bisa memilih, panitia menjawab bahwa undangan tersebut sudah ada yang memakai, berarti undangan tersebut ganda,” jelasnya.
