Persoalan juga muncul dari warga Desa Gunungsari, melalui keterangan dari salah seorang perangkat desa setempat mengatakan, pelaksanaan pembangunan tanggul dan pengerukan sungai menurutnya tidak jelas titik yang dilaksanakannya, kontraktor PT. Taruna Karya Utama yang menyewa rumah tepat di depan balai desanya juga terkesan seperti siluman yang datang dan sekarang tidak tahu sudah pergi tidak pernah ada koordinasi dengan pihak pemerintah desa.
Warga sempat memprotes lantaran pembangunan tanggul yang bertemu dengan sekitar 5 titik saluran pembuangan air limbah (SPAL) tanpa dipasangkan kelep, tanggul yang bertemu dengan jembatan juga tanpa dilakukan peninggian jembatan. Itu akan membuat air sungai meluap dan membanjiri rumah warga jika musim hujan datang. Warga mengancam jika tidak dipasang kelep maka akan dibongkar tanggul yang sudah dibangun tersebut lantaran dinilai sia-sia.
“Warga sempat memprotes dan meminta untuk dipasangkan kelep dan meninggikan jembatan, tetapi sampai sekarang tidak dilakukan dan kontraktornya juga sepertinya sudah tidak ada lagi di rumah kontrakannya mungkin sudah selesai,” ujar salah seorang perangkat Desa Gunungsari.
Baca Juga:DPP PKS Putuskan Cagub Jatim Lewat Rekomendasi DPWKang Iman Lakukan Kunjungan Sehari di Surabaya
Persoalan lain juga muncul dari para petani dan pembuat batu bata yang menggantungkan kebutuhan pengairannya dari sungai ciberes, mereka terpaksa harus menggunakan bor untuk mendapatkan air lantaran air sungai yang mengering.
Salah seorang petani asal Desa Cikulakkidul, Oso mengungkapkan, masyarakat sebenarnya bukan menolak adanya proyek pembangunan tanggul dan pengerukan sungai, akan tetapi seharusnya pelaksana proyek harus memikirkan resiko dalam setiap langkah yang dilakukannya. Seperti persoalan akses angkutan material yang sulit karena harus masuk ke jalan gang.
Pelaksana proyek mencari jalan pintas dengan membendung sungai dan menjadikannya sebagai akses lintasan dan itu sudah berjalan sekitar 4 bulan lamanya. “Harusnya gak boleh membendung sungai, ribuan petani dari kecamatan Waled, Kecamatan Pabuaran, Kecamatan Babakan banyak yang mengandalkan pengairan dari sungai ciberes,” jelas Oso.
Oso juga menyesalkan tindakan pelaksana proyek yang menyewa mesin escavator milik kelompok tani Desa Ciuyah hasil bantuan dari Kementrian Pertanian melalui anggota DPR RI Herman Khaeron, menurutnya pelaksana proyek seperti kurang modal yang sebenarnya bisa menyewa kepada perusahaan penyewa alat-alat berat.
