Rakernas DWP Digelar di Bandung

Rakernas DWP Digelar di Bandung
0 Komentar

Wien melanjutkan, istri pegawai aparatur negara sebagai pendamping suami, harus mampu meningkatkan pemberdayaan dirinya mengahadapi tuntutan kehidupan, serta dapat menjadi contoh atau panutan bagi masyarakat sebagai abdi negara yang andal.

Ia juga menyatakan bahwa wanita bisa berkiprah dalam pembangunan bangsa, yang diawali dengan tekad mengembangkan organisasi menjadi modern dan profesional.

Rencana strategis DWP yang ditetapkan pada Musyawarah Nasional (Munas) III tahun 2014, dimana berdasarkan RPJMN 2015- 2019 Jokowi -JK, diharapkan DWP  berhasil menjadi ‘center of excellence,’ meningkatkan peranan perempuan dalam membina keluarga, dan mampu berkiprah dalam peranan publik.

Baca Juga:BBGRM ke XIV, Aher Cetuskan Konsep Gotong Royong Berkeadilan dalam Keluarga & Bernegara14 Pasangan Pengantin Disabilitas Menikah Massal di Gedung Sate

Sementara pada Rakernas kali ini, ditujukan untuk mengintensifkan program kerja kegiatan, menyusun program prioritas kebijakan.

“Pada kesempatan baik ini, DWP sebagai mitra strategis pemerintah menandatangani kesepakatan kerja dengan Kementerian Koperasi dan UKM, sebagai upaya melaksanakan program untuk mendorong perempuan sebagai pelaku ekonomi produktif dan kreatif,” Ucap Dia.

Pun Rakornas kali ini dihadiri  di sekitar 538 orang peserta, terdiri dari instansi pemerintah pusat, dan para pengurus DWP Pusat, serta Provinsi.

“Ucapan terima kasih karena kegiatan Rakornas bisa dilaksanakan dengan baik dan sempurna, kepada Gubernur Jawa Barat dan seluruh jajaran yang telah memberikan dukungan fasilitas dan kehormatan yang luar biasa kepada DWP, sehingga dapat melaksanakan Rakernas di Gedung Merdeka yang bersejarah ini,” Ungkap Wien.

Netty Harap 3 Ends Menjadi Fokus Di Rakernas DWP

Hadir sebagai Penasihat DWP Provinsi Jawa Barat, Netty Heryawan pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Dharma Wanita Persatuan (DWP) Tahun 2017 mengatakan tema perempuan dan organisasi tidak dapat dipisahkan. Dibuktikan dengan coretan tinta emas perempuan Indonesia berada dalam sejarah seperti RA. Kartini dan Dewi Sartika. Maka peran perempuan sebagai center of life berkaitan dengan keberlangsungan peradaban sebuah bangsa.

Ditambahkan Netty, saat ini perempuan menempati setengah dari penduduk Indonesia, sehingga jangan memandang remeh peran perempuan dalam pembangunan. Karena perempuan merupakan subjek pembangunan bukan objek pembangunan yang harus diberikan akses dan ikut serta melakukan kontrol dalam pembangunan.

Oleh karena itu, tutur Netty, kita harus mengapresiasi pada pemerintah yang mulai berpihak pada perempuan. “Sekarang setelah masuk dalam ruang birokrasi mulailah orientasi pembangunan menjadi Gender and Development yang menyasar kelompok perempuan dan rentan,” ungkapnya.

0 Komentar