BANDUNG – Pelaksanaan ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2017 selain diikuti para peserta reguler juga diikuti peserta berkebutuhan khusus.
Berdasarkan data yang dihimpun Tribun Jabar terdapat 16 peserta berkebutuhan khusus mengikuti SBMPTN 2017 di sub Panlok Bandung dengan pilihan jalur saintek dan soshum, sementara sub Panlok Tasikmalaya diikuti dua peserta dengan pengambilan jalur program campuran.
Risman Ariwinando (19) salah satu peserta berkebutuhan khusus di SBMPTN 2017 asal Kabupaten Sorong, Papua Barat. Ia harus bersusah payah menempuh jarak ribuan kilometer dari daerah asalnya untuk dapat mengikuti SBMPTN demi mengejar cita-citanya.
Baca Juga:Suami Selingkuh Lalu Nikah Siri, Taryati Ngadu Ke Pemkab Cirebon“Persembahan Bumi”, Jadi Tema Desain Gedung Kesenian Jabar di Cikutra
Untuk dapat mengikuti kegiatan SBMPTN bagi penyandang disabilitas yang terpusat di ITB, Ia harus rela menumpang di salah satu mes atau tempat perkumpulan bagi penyandang disabilitas tunanetra yang di Bandung.
Menurut dia selama beberapa hari ini ia memilih tinggal di sebuah kos-kosan di sekitar ITB sambil menunggu waktu penyelenggaraan dan pengumuman hasil SBMPTN 2017.
“Saya akan tinggal di sini, sampai hasil pengumuman SBMPTN keluar. Kalau memang saya berjodoh, saya akan tinggal lebih lama di sini, tapi kalau tidak lolos saya akan kembali ke Sorong untuk melanjutkan sekolah di sana,” ujar Risman, di sela menunggu waktu pelaksanaan ujian di Labtek VII ITB, Jalan Ganesha Nomor 10, Kota Bandung, Selasa (16/5/2017).
Berdasarkan pengamatan, selama menunggu waktu pelaksanaan ujian SBMPTN, Risman yang hadir dengan mengenakan pakaian kemeja berwarna coklat tampak bercengkrama dengan beberapa peserta SBMPTN yang merupakan peserta berkebutuhan khusus lainnya di salah satu selasar labtek VII ITB. Beberapa saat mereka tampak serius membicarakan sesuatu hal, namun beberapa kali juga salah seorang di antara mereka tertawa dan kemudian diikuti oleh yang lainnya.
Dalam gelaran SBMPTN 2017 kali ini Risman memilih tiga program jurusan dari dua perguruan tinggi negeri, yaitu Bahasa dan Sastra Inggris juga Seni Musik di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan Seni Musik di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
“Pemilihan jurusan seni musik dan sastra Inggris ini, karena memang tidak tersedia di Papua Barat. Apalagi musik merupakan keahlian saya, jadi mungkin dengan saya sekolah di jurusan seni musik untuk kedepannya mungkin saya akan lebih baik lagi, ketimbang memaksakan diri untuk mengambil jurusan lain yang bukan keahlian saya,” ujar dia.
