Demiz juga mengaku heran karena wisata Halal nasional belum berkembang baik, padahal potensinya sangat besar. Berbeda dengan negara Singapura dimana bisnis wisata halalnya jauh lebih besar. Menurut Demiz, pelaku usaha Indonesia belum sepenuhnya fokus terhadap pengembangan industri halal nasional.
“Nah, lucunya wisata halal di Singapur jauh lebih besar daripada wisata halal di Indonesia. Artinya apa? Potensi Indonesia menyumbangkan wisata halal sangat hebat potensinya, cuman belum digali oleh pelaku usaha. Peluangnya sangat besar bagi siapa pun pelaku usaha, apalagi pelaku usaha syariah dengan prinsipnya halalan thoyyiban,” papar Demiz.
“Peluang masih besar saudara-saudara. Jadi bagaimana kita bisa menggali potensi tadi dan bekerjasama dengan berbagai pihak, sehingga bisa meningkatkan, menjadikan, mewujudkan pembangunan potensi tadi menjadi sumber-sumber ekonomi syariah,” lanjutnya.
Baca Juga:Ini Curhatan Kekecewaan Jokowi Disela Sambutannya Di Ponpes Buntet Kab CirebonKita Kenali Beberapa Reptil Terbesar, Setelah Viral Piton Telan Akbar
Potensi produk halal menjadi sangat besar karena dapat memenuhi nilai-nilai mutu serta keamanan untuk dikonsumi. Hal ini penting karena dalam era perdagangan pangan global saat ini, pangan yang bermutu dan aman (food safety) menjadi sebuah keniscayaan. Dengan demikian, hadirnya usaha syariah dan produk halal akan menjadi nilai tambah produk UMKM lokal, serta menjadi kekuatan penting untuk bersaing di era masyarakat Ekonomi Asean dan pasar global yang lebih luas.
Demiz pun berpesan kepada para pelaku usaha untuk terus berinovasi memanfaatkan peluang besar wisata halal ini. Terlebih lagi, Indonesia akan mengalami Bonus Demografi dimana angkatan kerja (umur 15-64 tahun) akan mencapai 70%. Apabila Indonesia bisa memanfaatkan momentum tersebut, maka negara kita akan menjadi pemain global (global player) atau salah satu dari lima negara dengan ekonomi terkuat di dunia.
“Persoalannya tergantung dari kita, kalau kita tidak terus berinovasi, ya momentum tadi (Bonus Demografi) akan hilang, ga akan terjadi. Yang akan terjadi adalah banyaknya pengangguran. Kalau kita berhasil mengatasi itu, pengangguran tadi dengan mengembangkan wirausaha, maka tahun 2030 diprediksi oleh berbagai lembaga internasionsal Indonesia menjadi global player,” pesan Demiz.
“Mampu nggak kita menjawab tantangan tadi. Harus mengubah mind set orang-orang tua — terutama jangan hanya cekoki anaknya sekolah yang pintar, yang tinggi, cepat lulus, terus kerja. Bukan. Harus bagaimana mengembangkan entrepreneurship mereka, jiwa usaha mereka, sehingga menjadi pencari kerja, pemberi kerja, apalagi di bidang syariah,” pungkasnya.
