Ditambahkannya, penyalahgunaan wewenang juga terjadi pada Kalwan yang saat ini sudah menjadi PNS di Kemenag, akan tetapi setiap bulan masih menerima uang sertifikasi layaknya masih menjadi kepala sekolah. Padahal Kalwan sudah bekerja di KUA Pasaleman, tetapi diakuinya setiap hari Sabtu masih menyempatkan diri mengajar di SMK Darul Falah, yang jadi pertanyaan warga, apakah Kalwan Isom masih layak menerima sertifikasi sesuai persyaratan dengan kondisinya saat ini? sementara guru honorer lain masih banyak yang membutuhkan. “Warga hanya ingin Kalwan Isom memilih mau mengabdi ke SMK Darul Falah atau konsentrasi ke pekerjaan barunya, yayasan ini milik masyarakat dan masih banyak yang bisa mengabdi disini,” tegasnya.
Pengurus pusat KCBS Jakarta yang turun ke Cirebon selama 3 hari menindaklanjuti laporan masyarakat, T M Tehupuring kepada “JP” menambahkan, dari hasil penelusuran baik ke masyarakat maupun sekolah, ditemukan banyak tindak kesalahan bahkan mengarah ke tindak pidana. Kondisi belajar mengajar juga kurang terpantau maksimal, lantaran meski siswa malas berangkat asalkan bayaran SPP tepat waktu ada jaminan lulus sekolah.
Ketua Komite sekolah Usman Suwato ternyata juga sudah digantikan Syarif pada September 2016 lalu tanpa ada pemberitahuan. Pihaknya hanya berharap agar penggunaan dana oleh oknum yang bukan haknya segera untuk dikembalikan ke sekolah, dan melaksanakan standar pembelajaran yang baik dan benar. “Kalwan Isom memang punya jasa di sekolah tersebut, tetapi tindakan Kalwan sangat mencolok mata, kami sudah mengingatkan untuk segera memperbaikinya, kami hanya tidak ingin ada Isom-Isom lain di sekolah lainnya,” jelasnya.
Baca Juga:Miras Masih “Guyur” Kota Santri TasikPanggung Wisata Politik Roboh Disapu Angin
Sementara itu, pihak sekolah saat dikonfirmasi baik Kepsek Rayati maupun Kalwan Isom senin (30/1) tidak ada di sekolah. Wakasek kesiswaan Rudi, yang menerima wartawan tidak bisa memberikan jawaban karena kewenangan tersebut ada di kedua orang yang dimaksud, dan menjanjikan akan menemuinya keesokan harinya. Namun pada selasa ( 31/1) ketika awak media akan menemuinya, justru dihadang satpam dipintu gerbang, dengan alasan tak ada satupun kepsek, wakasek ataupun guru yang bisa ditemui untuk dilakukan konfirmasi. (crd)
