GARUT – Anak-anak korban bencana alam adalah orang yang paling mengalami dampak trauma terbesar secara psikologis. Dengan usia yang masih sangat belia, mereka butuh diperlakukan secara khusus untuk lepas dari rasa trauma.
Bencana banjir bandang Garut masih segar di ingatan masyarakat Jawa Barat. Ribuan warga yang bermukim di sekitar Sungai Cimanuk menjadi korban bencana yang terjadi menjelang tengah malam itu.
Tidak ada yang menyangka bencana itu akan terjadi begitu cepat di saat manusia lelap dalam perisitirahatannya. Kini, yang tersisa hanyalah puing-puing hasil sapuan banjir dan juga rasa trauma di dalam dada.
Baca Juga:Labih dari 300 Perusahaan di Bandung Raya Buang Limbah ke Citarum6 Rumah di Tabun Selatan Bekasi Dilalap Api
Memulihkan trauma pascabencana bukan perkara sepele. Ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, pun tidak seperti rancangan bangunan rumah baru yang terstruktur.
Memulihkan rasa trauma membutuhkan waktu yang lama. Terutama bagi anak-anak yang menjadi korban bencana alam. Sebab dengan kondisi fisik yang lemah serta mental yang masih rapuh, mereka perlu dibangkitkan rasa kepercayaan dirinya.
Beberapa hari setelah bencana, tidak sedikit seorang anak yang terbangun dari tidurnya masih mencari-cari ke mana orang tuanya pergi. Dia tidak mengerti mengapa kini keceriaan bersama ayah dan ibunya tidak pernah datang lagi. Yang ada hanya rasa sepi dan takut karena tidak ada lagi orang yang selalu memberikan kehangatan dan perlindungan beginya.
Inilah tugas yang cukup berat yang harus dipukul oleh jajaran Pemerintah Provinsi Jabar dan Kabupaten Garut serta seluruh elemen masyarakat tatar Pasundan dalam membantu pemulihan anak-anak Garut.
Untuk itu Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) Jawa Barat, Netty Prasetiyani, sengaja datang ke Garut menemui anak-anak kecil yang menjadi korban sembari membawa kejutan untuk mereka.
Netty juga datang membawa keceriaan yang masyarakat Jabar rasakan setelah menjadi juara umum Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX 2016. Istri Gubernur Ahmad Heryawan itu tidak mau kegembiraan hanya berada di Kota Bandung saja. Anak-anak korban banjir Garut harus ikut merasakannya.
Ditemani puluhan atlet dari cabang olahraga tenis meja, polo air, dan karate Netty berkunjung ke tiga tempat pengungsian korban banjir Garut yaitu di Rusunawa Bayombong, Korem Tarumanagara, dan Islamic Center Garut. Tujuannya untuk menghibur dan memotivasi anak-anak yang menjadi korban agar tetap optimis menatap masa depan.
