“Kita memerlukan banyak kajian terhadap masterplan lintas sektor setelah investor global ramai masuk di Indonesia, terutama dengan bisnis berbasis teknologi informasi komunikasi (TIK). Jangan sampai kita jadi gigit jari di akhir karena kuenya banyak diambil lari pemain global,” katanya. Kandidat Ketua Umum FAST ini mengungkapkan, riset Deloitte (2015) di Australia menunjukkan, layanan transportasi cerdas berbasis aplikasi terbukti paling kuat menurunkan bea pencarian baik untuk penumpang/sopir.
Ini membuat tarif layanan lebih rendah 20% dari taksi reguler karena tak ada bensin habis buat ngetem, misalnya. Penumpang sendiri diuntungkan yang jika dikalkulasikan mencapai 81,1 juta dollar AS/tahun. “Hal menarik lainnya menurut Deloitte, bahwa banyak masyarakat yang tertarik pakai karena permintaan dibentuk secara viral. Jadi pasar ada karena perubahan gaya hidup digital, bukan semata-mata karena aplikasinya disediakan,”tambahnya.
Dengan demikian, ujar dia, masterplan transportasi harus dilihat kembali. Jangan-jangan yang ada sekarang belum mengantisipasi bentuk bisnis baru transportasi. Masterplan harus disesuaikan dengan perubahan zaman dan tuntutan masyarakat Indonesia yang serba digital dan terkonekasi dalam banyak jejaring maya. “Dalam hemat saya, regulasi harus adaptif. Masterplan dan regulasi harus selaras perubahan zaman. Pun demikian, startup TIK juga tetap harus melihat aspek lokal secara matang,” pungkasnya. (jay/adv)
