Namun, masih kata dia, bukan karena penanganaannya yang lambat. Melainkan, warga masih menganggap remeh gejala-gejala yang ditimbulkan DBD ini. Saat demam datang, pasien tidak lantas dibawa ke rumah sakit karena dianggapnya sakit biasa. Padahal saat musim hujan, potensi wabah DBD terbilang tinggi.
“Bukan telat penanganannya. Orang demam diobatin dulu, obat ini, obat itu. Demam tidak sembuh, ternyata penderita (DBD), dia lemes dilaporkan ke rumah sakit sudah dalam kondisi parah,” paparnya.
Boestari mengaku sudah melakukan langkah antisipasi guna menangkal wabah DBD makin menyebar. Di antaranya dengan menyebar petugas medis tambahan di setiap puskesmas, ditambah bantuan ambulan. Sebanyak 44 ambulan telah di sediakan di seluruh puskesmas.
Baca Juga:Mobil Pusling Salimah Purwakarta DiluncurkanTak Menghadiri Undangan, Mahasiswa Karawang Kecewa pada Cellica
“(Sebanyak) 44 ambulan ini bukan sekedar mengantar. Apabila masyarakat membutuhkan dilakukan penanganan lalu nanti bisa ke rumah sakit. Selain itu, posko juga sudah disediakan untuk penanganan personal di lapangan,” tandasnya. (iar)
