Nih Dia Rumusan Strategis Penyiaran ala Wagub Jabar  

Nih Dia Rumusan Strategis Penyiaran ala Wagub Jabar  
0 Komentar

BANDUNG – Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar menyatakan sejumlah rumusan strategisnya mengenai penyiaran di Indonesia. Itu dilontarkannya pada Rapat Koordinasi Penyiaran bertema “Peran Strategis Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bersama DPRD dan Pemerintah Daerah untuk Memajukan Penyiaran Indonesia”.

logo provHal pertama yang dia ungkapkan adalah terkait konten. Bahwa konten di media elektronik khususnya televisi (TV), menjadi keresahan banyak pihak. Pasalnya, kata dia suatu adegan di TV dapat menjadi ‘sihir’ yang mempengaruhi sisi emosional seseorang. Maka konten penting untuk diawasi. Sebuah tayangan harus ada manfaatnya bagi masyarakat.

“Konten jadi keresahan banyak pihak. Film/tayangan ini ‘sihir’, satu detik menggerakan 25 frame, yang juga bisa menggerakan kita untuk sedih, untuk tertawa. Jadi penting ini konten, karena pada dasarnya frekuensi ini milik negara, negara milik rakyat. Jadi sejauh mana pinjaman frekuensi ini bermanfaat untuk rakyat,” kata Deddy di hotel Grand Aquila Bandung, Kamis (25/2/16).

Baca Juga:Ganja Seberat 25,44 Kg dan Sabu DimusnahkanTKP! Polisi Ringkus Pengedar Sabu saat Bertransaksi di Tasikmalaya

Terkait revisi Undang – Undang Penyiaran, kata Deddy, harus bisa mengakomodir perkembangan teknologi.  “UU penyiaran perlu selaras dengan UU perfilman, termasuk Pers. Karena ada karya-karya Jurnalistik yang disajikan dalam bentuk visual di televisi,” katanya.

“Dalam rekomendasi ini kan ada tentang revisi Undang – Undang tadi kita berikan masukan. Kemudian UU penyiaran ini perlu punya kaitan nanti dengan UU perfilman, juga UU Pers tentunya. Karena ada juga karya-karya jurnalistik dalam bentuk visual kan.  Bagaimana kaitannya itu saya kira penting juga ini,” ujar Deddy.

Menyinggung soal kepemilikan stasiun televisi, masih menurut Deddy saat ini satu orang ada yang mempunyai beberapa stasiun televisi. Menurut Deddy ini perlu diperhatikan, bagaimana UU mengatur hal ini, apakah diperbolehkan. Jangan sampai ada monopoli di bidang komunikasi.

Yang tak kalah penting disinggung Deddy pada rakor kali ini yaitu Lokal Konten, yang menurutnya salah satu permasalahannya adalah jam tayang. Tayangan lokal biasanya disiarkan dini hari dimana tidak banyak pemirsa yang menyaksikan. Disamping itu, konten lokal di televisi perlu juga mengeksplor potensi lokalitas yang ada lebih dalam lagi. Untuk itu, Jawa Barat pun tak jarang mengadakan Festival – festival film seperti Festival Film Jawa Barat (FFJB) dan sejumlah kompetisi lainnya untuk menggali konten lokal yang bisa disiarkan oleh anak–anak muda.

0 Komentar