Sementara itu, Menteri Pertahanan Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu mengatakan, pesawat tempur TNI-AU jenis Super Tucano tersebut dibuat pada 2003 silam. Namun Indonesia membelinya di tahun 2012. “Total 12 (pesawat),” ucapnya.
Ryamizard masih mencari tahu penyebab jatuhnya pesawat. Menurutnya faktor-faktornya bisa dilihat dari kelalaian pengendara, cuaca, mesin, dan sebagainya. ?Dia juga menegaskan jika ditemukan permasalahan utama murni pada pesawat, maka tidak akan membeli pesawat jenis itu lagi.
“Terbaru jelas memperketat pengadaan. Yang kedua memperketat pemeliharaan. Pemeliharaan itu adalah sangat penting. Baru tapi pemeliharaan tidak bagus, fatal ya. Kemudian pesawat lama kalau pemeliharaan bagus, itu akan tidak fatal. Karena kita lihat saja Singapura di negara kaya yang bisa membeli segala macam pesawat, dia lebih lama dari kita (pengadaan) tapi pemeliharaan lebih bagus,” bebernya.
Baca Juga:Banjir di Jalan Soekarno Hatta Bandung, Sepaha Orang DewasaDiusung PKB, Ahmad Dhani Maju di Pilgub DKI
Dia juga justru menyalahkan korban jiwa dari warga sendiri ada karena warga yang memaksa tinggal di kawasan pangkalan udara. Menurutnya harus ada koordinasi dengan instansi setempat terkait pembangunan lahan sipil di wilayah militer.
“Jelas dengan ada segala macam ini, kita akan kerjasama dengan siapa saja yang terkait dengan keamanan daerah,” pungkasnya. (lut/bay)
