Kekhawatiran masyarakat diakui sudah muncul sejak tempat itu akan dibangun menggunakan nama daerah di sana. Made menilai, penggunaan nama Trusmi di sana merugikan para perajin setempat. Menurutnya, produk batik Trusmi tidak sesederhana yang dijual di showroom tersebut. Ia beranggapan, produk batik yang dibuat para perajin setempat lebih vareatif dari yang dijual di pusat batik Trusmi.
“Orang yang berkunjung kesitu akan menilai, loh kok batik Trusmi seperti ini? Misalnya kok printing yang banyak. Sementara printing kan bukan kategori printing. Kemudian orang melihat batik-batik tulisnya. Sehebat apa sih batik tulis di situ? Apakah itu unggulan-unggulan dari Trusmi?” kata Made menjelaskan. (gfr)
