CIREBON – Tradisi sholawatan sering ditemui di berbagai tempat di belantara bumi Nusantara Indonesia, dengan cara menampilkan aneka ragam bentuk dan kemasannya. Arti Sholawat adalah sebagai wujud kecintaan dan rasa terima kasih kita kepada Baginda Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Semakin banyak kita bershalawat, maka semakin bertambah cinta kita kepadanya. Tradisi sholawatan di Indonesia merupakan warisan Islam di Nusantara yang sudah diajarkan oleh Walisongo jaman dahulu dengan memadukan unsur-unsur budaya lokal yang sudah ada.
Dalam rangka syiar Islam serta meneguhkan komitmen kebangsaan, pada tanggal 22 Oktober 2015 digelar acara Cirebon Bersholawat di Alun-alun Kejaksan Kota Cirebon. Seperti yang kita ketahui agenda ini merupakan agenda rutin digelar setiap tahunnya. Namun pada penyelenggaraan kali ini, ada yang istimewa. Tanggal 22 Oktober dipilih bukan karena kebetulan semata. Di tanggal inilah Resolusi Jihad dikumandangkan oleh pendiri Nahdlatul Ulama Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, 70 tahun yang lalu.
Ketua Panitia Cirebon Bersholawat, H. Andi Yusuf menceritakan, pada saat itu, ribuan santri dan kiyai termasuk dari Cirebon bergerak ke Surabaya untuk mengusir para penjajah Belanda yang membonceng pada sekutu. Dua minggu kemudian setelah itu, pertempuran besar pun terjadi di Surabaya, yang kini kita kenal dengan dengan Hari Pahlawan 10 November.
Baca Juga:Dampak Kebakaran Pasar Baru Cikarang, GMBI Minta Bupati MudurSekjen Jakmania Terancam 6 Tahun Penjara
“Maka dari itu tanpa ada Resolusi Jihad, tidak akan pernah ada pertempuran 10 November 1945 di Surabaya,” ungkapnya Kamis, (22/10).
Dengan demikian, lanjut Andi, Cirebon Bersholawat ini, selain untuk syiar dakwah, juga mengajak masyarakat merefleksikan dan mempertebal rasa cinta terhadap Tanah Air dan Bangsa. Hal ini patut dirasa sangatlah penting, karena hari-hari ini banyak pihak yang mencoba memisahkan kehidupan beragama dengan kehidupan berbangsa. Bahkan ada yang mencoba meniadakan ke-indonesia-an dengan kedok khilafah.
“Sudah banyak buktinya yang terjadi saat ini adalah ideologi trans-nasional masuk begitu saja dan mengancam keberlangsungan Indonesia sebagai sebuah identitas bangsa. Banyaknya kejadian terorisme dan gerakan radikal yang mengatasnamakan islam di Indonesia, cukup membuktikan fenomena mengkhawatirkan ini. Apalagi di Cirebon pernah terjadi peristiwa bom bunuh diri tahun 2011 lalu,” terangnya.
