Beberapa saat kemudia, suara tangis bayi terdengar. Perasaan ku spontan berubah menjadi bahagia. “Ya Allah terima kasih, anak ku sudah lahir,” guman ku dalam hati.
Dokter pun membuka pintu ruang persalinan dan mempersilahkan aku masuk. Ku lihat bayi mungil, masih merah tengah dibersihkan oleh perawat. Tak lama, bayi itu dibungkus kain dan diserahkan pada ku. Aku pun reflex, ka raih bayi mungil itu, lalu ku adzanin di telinga kanannya.
Usai itu, aku membawa si bayi ke tempat tidur istri ku yang masih terbaring lemas. “Alhamdulillah a, bayi kita normal, cantik lagi,” ucapnya dengan suara pelan.
Baca Juga:Minta Hujan, Bupati Anna Gelar Sholat Istisqo Bareng Anak YatimKepergok Saat Memetik, Satu Pelaku Curanmor Ketangkap
Aku hanya tersenyum sambil menempatkan bayi ku di samping istriku terbaring. Melihat bayi itu, istri ku kemudian menciuminya, dan berujar,”Maap nak, mamah gak bisa menemani kamu. Jadilah anak baik ya, sayangi selalu ayah mu.”
Mendengar itu, aku tersontak. “Neng, kenapa bilang begitu?” tanya ku.
“Neng gak kuat kuat a. Tolong anter neng dengan lafadz-lafadz Qur’an yang aa hafal,” timpal istri ku.
Dokter dan suster yang ada di sana, seperti yang sudah mengetahui kejadian terburuk akan terjadi. Mereka kemudian menganggukkan kepala, memberi ku isyarat untuk memenuhi permintaan istri ku itu. “Ya..Robb jika memang Engkau menentukan jalan lain aku ikhlas ya Allah…. Mudahkan jalan istriku untuk menghadapmu dengan khusnul khootimah,” guman ku dalam hati.
Tak lama, ku ucapkan kalimat “LAAILAHA ILLALLAH MUHAMMADUR ROSULULLAH..” perlahan aku membimbingnya. Rasanya aku mengerti betul setiap helaan nafasnya, raga kami bagai menyatu. Kuulang hingga berkali-kali dengan helaan nafas yang terirama pelan. Dua bulir bening tersembul dari sudut matanya. Aku merasakan ia sanggup mengikuti kalimat ini, terimakasih ya Allah..!
Jumat, tepat jam 15.00 WIB, istri ku kemudian menghempaskan nafasnya yang terakhir. Meski iklas, namun perasaan tak percaya masih menyelimuti ku. Kutengok layar monitor yang terhubung ke tubuh istriku. Tak ada lagi yang bergerak di sana.
Bagai tersambar petir, kudekap tubuh lemas istriku. Bibirnya menoreh segaris senyum. “INNA LILLAAHI WAINNA ILAIHI ROOJIUUN.” Aku lunglai terduduk di sampingnya, tapi tak ada lagi air mata yang keluar.
