Kesemuanya itu, jelas Romo, dilakukan untuk mencapai kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan untuk kebesaran bangsa Indonesia di mata dunia sebagai barometer mercusuarisme dunia. “Hal ini juga sesuai dengan cita-cita luhur para pendiri bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” jelasnya.
Ada yang menarik dalam gelaran upacara HUT RI ke-70 yang dilakukan Yayasan Ampera Indonesia. Yakni, para pesertanya terdiri dari sejumlah komunitas di masyarakat Indonesia. Yakni komunitas penarik delman, tukang ojek, petani, guru madrasah, mahasiswa, veteran dan waria. “Kenapa kita melibatkan mereka (komunitas-komunitas itu) dalam upacara ini? Sebab kami ingin memberikan perasaan kebanggan pada mereka, serta pengakuan kalau mereka juga merupakan bagian dari pemilik negeri ini. Dan di hari ulang tahun kemerdekaan ini mereka turut merasakan perayaannya secara langsung menjadi peserta upacara. Selain tentu saja sebagai upaya untuk menanamkan rasa patriotisme dan nasionlaisme itu sendiri,” imbuh Romo.
Dalam gelaran peringatan HUT RI ke-70 itu, Yayasan Ampera Indonesia juga memberikan santunan kepada 20 veteran serta mengadakan sejumlah perlombaan khas Agustusan. Seperti balap karung, bakiak dan panjat batang pohon pisang, yang pesertanya para waria.
Baca Juga:Besok, YAI Gelar Upacara HUT RI di Gedung Naskah LinggarjatiRudi Hartono: Rapimda Kubu ARB To Mengiburdiri Only
“Saya merasa bangga bisa berada di sini, menjadi peserta upacara di peringatan HUT RI. Sebelumnya saya tak pernah melakukan ini. Dengan kegiatan ini, saya juga merasa mendapatkan penghargaan sebagai pemilik negeri,” ujar Jafar, seorang tukang ojek, yang ditemui usai upacara di lokasi acara.
Hal senada juga dilontarkan Yesi alias Yayan, seorang Waria. Bagi dia, ini merupakan pengalaman pertamanya. Dimana dirinya bisa berada di barisan bersama orang-orang dalam melakukan upacara peringatan HUT RI. “Saya merasa bangga. Dan ini merupakan pengalaman pertama bagi saya,” ucapnya. (bay)
