Wangsit Siliwangi juga Mengisyaratkan adanya Suharto Pengganti Sukarno

Wangsit Siliwangi juga Mengisyaratkan adanya Suharto Pengganti Sukarno
0 Komentar

Selepas Sukarno yang berkuasa hanya sebentar itu, Suharto datang menggantikannya. Prabu Siliwangi melukiskannya dengan adanya kerajaan di dalam kerajaan. Maksudnya, sesungguhnya Soeharto itu sudah mendirikan kerajaan dan menjadi rajanya sekaligus sejak Sukarno sakit parah.

Sukarno memang pernah sakit parah sehingga harus mendatangkan dokter dari Cina, Peking. Saat Soekarno sakit itu Amerika Serikat beserta negara-negara sekutu kapitalisnya ketar-ketir, was-was, takut setengah mati. Mereka sangat takut jika Partai Komunis Indonesia akan memimpin Indonesia pasca-Sukarno. Ketakutan mereka sangat beralasan karena PKI adalah partai komunis terbesar di dunia dan nomor empat pemenang Pemilu di Indonesia. Oleh sebab itu, AS menyusun strategi dan skenario untuk memenangkan persaingan. Memang saat itu sudah terjadi persaingan sengit antara kapitalis dan komunis di seluruh dunia yang merembes ke dalam negeri.

Pada mulanya AS akan menggunakan Jenderal Ahmad Yani dan atau Jenderal A.H. Nasution. AS secara intens mendekati keduanya. Akan tetapi, kedua jenderal itu menolak mengikuti skenario AS dengan tegas dengan alasan keduanya sangat setia pada Pancasila dan Bung Karno. Sukarno memang sangat anti-AS, antikapitalis sekaligus pembendung komunis yang gigih. Saat Soekarno berkuasa, baik kapitalis maupun komunis tidak bisa leluasa meluaskan pengaruhnya secara bebas di Indonesia. Sukarno memagarinya dengan doktrin Nasionalis-Agama-Komunis (Nasakom). Komunis dipaksa Sukarno harus mampu menyesuaikan diri dengan budaya dan nafas bangsa. Adapun kapitalis memang dipandang sebagai sumber kolonialisme-imperialisme. Jadi, selama kepemimpinan Sukarno, kapitalis dan komunis hanya dalam keadaan saling bisu sambil menaruh dendam.

Baca Juga:Patwal “Penabrak” Khafidz Ditetapkan jadi TersangkaHebat! Pemprov Jabar “Tepati Janji” WTP Keempat

Karena kedua jenderal sohor itu menolak, AS mencari sosok lain. Akhirnya, pilihan jatuh kepada seorang jenderal yang menurut CIA tidak terkenal, bermasalah, tetapi lumayan cerdas. Sosok itu adalah Suharto.

Sejak saat itu, Suharto mulai mengembangkan kerajaaannya yang setiap hari semakin kuat. Sementara itu, Soekarno meskipun sudah sembuh dari sakit, kekuasaannya semakin hari semakin menurun yang memuncak pada peristiwa Gerakan 30 September. Sejak G-30-S itu, sesungguhnya Suharto telah mengendalikan kerajaannya di dalam kerajaan Sukarno. Bahkan, kerajaan Suharto lebih kuat dibandingkan kerajaan Sukarno. Kerajaan Sukarno hanya berputar pada masalah politis yang kerap hambar di tingkat teknis pelaksanaan, sedangkan Suharto memiliki banyak pasukan militer dan politisi yang bisa segera digerakkan. Apalagi setelah Supersemar yang kontroversial itu, kerajaan Sukarno semakin lemah, sementara kerajaan Suharto semakin mendekati bentuk aslinya. Itulah yang dimaksud kerajaan di dalam kerajaan. (red/berbagai sumber)

0 Komentar