Walaupun tidak mengalami kesulitan dalam hal materi soal, namun para peserta UN ini mengaku sesekali masih mengalami sedikit pusing dan mual, karena memang penyakit yang diderita mereka belum benar-benar pulih dan masih memerlukan masa penyembuhan. Akan tetapi, hal tersebut tidak menyurutkan mereka untuk tetap mengkuti UN, walaupun di rumah sakit.
Pengawas UN Saptari SPd mengatakan kedua peserta yang mengerjakan soal di rumah sakit menyebutkan, tidak ada fasilitas istimewa yang diberikan kepada para peserta UN yang mengerjakan soal-soalnya di rumah sakit, semua soal dan lembar jawaban, mesti dikerjakan dalam waktu yang durasinya sama dengan pengerjaan soal UN oleh peserta regular lainya.
“Sudah menjadi kewajiban penyelenggara maupun pengawas untuk melayani keinginan peserta UN yang berhalangan mengerjakan soal-soal UN di ruang kelas. Misalnya di rumah sakit, atau di tempat lainya jika siswa tersebut benar-benar berhalangan hadir di lokasi ujian dengan alasan yang bisa dibenarkan oleh aturan.” Jelasnya.
Selanjutnya, setiap harinya setelah para peserta UN yang mengerjakan soal-soal itu di rumah sakit, petugas pengawas langsung membawa lembar jawaban UN tersebut ke sekolah asalnya, untuk disatukan dengan peserta lainya, untuk disetorkan ke Dinas pendidikan dan dikirim ke Bandung guna proses pemindaian penilaian hasil lembar jawaban para peserta.
Sementara itu, pantauan wartawan dua orang peserta UN menderita penyakit DBD. Akibatnya, mereka mesti mengerjakan soal-soal UN di rumah sakit, di atas ranjang perawatan dengan kondisi yang masih lemah. Mereka pun terlihat serius namun karena sakit, aura wajah mereka yang seharusnya tanpa cela justru terlihat meringis. (erk)