Galeri tersebut diresmikan oleh Rini Soewandi, Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) Kabinet Gotong Royong di masa pemerintahan Megawati. “Batu-batu di sini isinya hampir 90% adalah batu-batu dari seluruh Indonesia. Ada dari Lampung, Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, juga dari Sulawesi, ada semua,” ujarnya.
Memang, jika orang awam yang tak mengerti batu, tentu akan menanyakan sejumlah batu impor seperti sapphire, zamrud, ataupun ruby jika datang ke galerinya. Padahal, di brosur galeri pun sudah dituliskan bahwa galeri tersebut berfokus pada batu-batuan lokal.
Jenisnya macam-macam seperti Agates (akik), Amethyst (kecubung), Carnelian (akik darah), Chalcedony (kalsedon), Chrysocolla (krisokola/pirus Garut/bacan), Chrysoprase (krisopras), Citrine, Copper Gems, Jade (giok), Jasper, Obsidian, Opal (Kalimaya), dan banyak lagi.
Baca Juga:Gadis Humble yang Cinta BroadcastingInspektorat Diminta Lebih ‘Bertaring’ Awasi Pemerintahan
Kini, batu mulia memang kembali ‘booming’. Bukan karena bantuan pemerintah, tapi karena gagasan anak negeri. “Sekarang batu booming lagi, satu tahun terakhir ini, luar biasa. Seseorang bernama Suwandi Gazali membuat majalah ‘Indonesian Gemstone’ yang membahas tentang batu-batuan Indonesia. Saya sampai memberinya penghargaan. Ini adalah revolusi batu mulia. Semua orang terperangah dengan adanya majalah itu. Semua instansi pemerintahan belum mikirin ini, Suwandi sudah bikin. Sejak itu, yang tadinya galeri saya sepi-sepi aja, sekarang banyak mobil yang datang, ramai setiap hari, ini sangat menyenangkan,” bebernya sambil menunjukkan majalah tersebut lalu mengakhiri wawancara. (jay)